-->
  • Jelajahi

    Copyright © Seronok Batam Media
    Best Viral Premium Blogger Templates

    iklan

    Kajian Akademik Mengenai Lemahnya Signifikansi Kurikulum Merdeka Dalam Pembentukan Kompetensi Peserta Didik Di Era Globalisasi

    Redaksi
    Minggu, Januari 11, 2026, 5:32:00 PM WIB Last Updated 2026-01-11T13:44:02Z
    Banner Header
    Banner Header



    Dayla Cita Amanda Siagian & Farel Steve Immanuel


    Seronokbatam.com - Batam | Masa globalisasi menuntut sistem pendidikan dapat mencetak generasi muda dengan kompetensi-kompetensi bidang abad ke-21, antara lain berpikir kritis, kreatif, literasi digital, kolaborasi, dan adaptasi.


    Dengan begitu, sebagai sistem pendidikan negara, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud ristek) meresmikan berlakunya Kurikulum Merdeka sebagai pembaharuan dalam sistem pendidikan nasional yang dijalankan atas prinsip peningkatan standar pembelajaran yang lebih fleksibel dan penguatan terhadap karakter dan kompetensi peserta didik.


    Kurikulum Merdeka adalah kebijakan pendidikan yang menekankan fleksibilitas pembelajaran, penyederhanaan materi esensial, dan penguatan kemampuan dan karakter siswa melalui pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa.


    Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), kurikulum ini mendorong pengembangan keterampilan abad ke-21 dan memberi guru dan satuan pendidikan lebih banyak kebebasan untuk menyesuaikan pembelajaran dengan konteks lokal.



    Namun, dalam praktiknya, ada perbedaan dalam kesiapan sumber daya manusia, sarana prasarana, dan pemahaman konsep di berbagai daerah. Ini menyebabkan tantangan untuk mencapai tujuan kurikulum dalam era globalisasi secara optimal.


    Meskipun Kurikulum Merdeka dianggap progresif secara konseptual, penelitian telah menunjukkan bahwa pelaksanaannya di lapangan belum sepenuhnya memberikan dampak signifikan terhadap kompetensi siswa.


    Kualitas kurikulum dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk perbedaan kesiapan guru, keterbatasan sarana prasarana, dan perbedaan kualitas pendidikan antarwilayah (Laily et al., 2023). 


    Oleh karena itu, dengan mengacu pada data empiris dari berbagai penelitian ilmiah, penelitian akademik ini bertujuan untuk mengevaluasi rendahnya signifikansi Kurikulum Merdeka.


    Guru yang siap menjadi faktor utama yang menentukan betapa pentingnya Kurikulum Merdeka untuk meningkatkan kompetensi siswa. Meskipun guru memahami konsep Kurikulum Merdeka, penelitian (Laily et al., 2023) pada Sekolah Penggerak di Jakarta Timur menunjukkan bahwa pembelajaran yang benar-benar berpusat pada siswa belum mencapai tingkat yang optimal. 


    Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa belum berkembang sepenuhnya. Situasi serupa juga ada di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, terutama di SDII Luqman Al-Hakim 02 Batam (Ahmad, 2025). Meskipun Kurikulum Merdeka digunakan di sana, keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan guru untuk membuat pembelajaran diferensiatif.


     Ketersediaan sumber daya pendidikan juga memengaruhi keberhasilan pelaksanaan kurikulum, selain kesiapan guru. Menurut penelitian (Rahman & Parepare, 2025), beberapa kendala utama dalam menerapkan Kurikulum Merdeka adalah keterbatasan fasilitas, teknologi, dan bantuan dari manajemen sekolah. 


    Ini terlihat di MI Hijriyah II Palembang, Provinsi Sumatera Selatan(Susiawati & , Angko Wildan, 2024). Sekolah ini, kurikulum diterapkan secara administratif, tetapi pelaksanaannya belum merata karena keterbatasan sarana dan ketidaktahuan guru.


     Sementara itu, penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka memiliki banyak manfaat jika digunakan dengan benar. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Iqbal & Asra, 2025) di SMAN 1 Samaturu, penerapan kurikulum merdeka berbasis proyek dapat meningkatkan keinginan siswa untuk belajar, tingkat kreativitas, dan keterampilan berpikir kritis. 


    Hasil ini menunjukkan bahwa kurikulum dapat membantu meningkatkan keterampilan siswa, tetapi ini sangat bergantung pada sumber daya pendukung yang siap.


    Namun, Kurikulum Merdeka dianggap tidak memenuhi semua kebutuhan globalisasi, terutama dalam hal literasi digital dan komunikasi antara budaya. 


    Menurut penelitian (Arwitaningsih et al., 2023), peningkatan literasi dasar tidak cukup untuk membentuk kompetensi global siswa. Ini terbukti di MAN 2 Langsa, Kota Langsa, Provinsi Aceh (Indah Lepi Lestari*, Tri Mustika Sarjani, 2025), dan sejumlah sekolah di Batam, di mana peningkatan hasil belajar belum sepenuhnya diiringi dengan kesiapan siswa menghadapi tantangan global. 


    Oleh karena itu, faktor utama yang menyebabkan Kurikulum Merdeka tidak efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa di era globalisasi adalah gabungan dari keterbatasan guru, sumber daya, dan pendekatan pembelajaran.


    Berdasarkan data empiris dan studi akademik, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan Kurikulum Merdeka lebih dipengaruhi oleh elemen implementasi daripada ide-ide kurikulum. 


    Kurikulum Merdeka dapat membantu siswa menjadi lebih adaptif dan siap bersaing di era globalisasi. Ini dapat dicapai melalui peningkatan pelatihan profesional guru, pemerataan fasilitas pendidikan, dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan. Faktor-faktor ini termasuk guru yang tidak siap, keterbatasan sumber daya, dan kurangnya integrasi kompetensi global. (Redaksi)


    Sumber : Farel Steve Imanuel & Dayla Cita Amanda Siagian (Fakultas Teknologi Informasi Program Studi Matematika Institute Teknologi Batam)



    Komentar

    Tampilkan