SeronokBatam.com - Kini, publik Lhokseumawe sedang menyaksikan sebuah eksperimen kepemimpinan yang menarik. Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., Wali Kota Lhokseumawe periode 2025–2030, tidak datang dengan janji-janji kosong.
Ia datang dengan rekam jejak sebagai pendekar hukum konstitusi dan 4 pilar yang ia sebut sebagai kompas kepemimpinan: Man of Ideas, Man of Integrity, Man of Commitment, dan Man of Action.
Di tengah lesunya kepercayaan masyarakat pada birokrasi, keempat pilar ini menjadi penting untuk dibedah. Apakah ini hanya retorika politik, ataukah sebuah model baru kepemimpinan daerah?
Dari MK ke Balai Kota: Lahirnya Man of Ideas
Sayuti bukan birokrat karier. Ia ditempa di Mahkamah Konstitusi, menguliti pasal demi pasal demi keadilan. Pengalaman ini membentuk cara berpikirnya: segala sesuatu harus punya dasar hukum, nalar, dan tujuan jangka panjang.
Buktinya, langkah awalnya bukan langsung cor beton atau bagi bansos. Ia justru menginisiasi Seminar Sejarah Kota Lhokseumawe. Bagi sebagian orang ini terdengar "tidak mendesak". Padahal ini fundamental.
Kota industri seperti Lhokseumawe sering mengalami krisis identitas. Warganya bekerja, tapi tidak punya kebanggaan sejarah. Dengan menggali kapan kota ini lahir, Sayuti sedang membangun narrative identity. Ia ingin warga tahu: "kita ini siapa, dari mana, dan mau ke mana".
Ini sejalan dengan UU Pemerintahan Daerah yang mewajibkan pemerintah melestarikan budaya. Pembangunan tidak hanya fisik, tapi juga jiwa. Inilah Man of Ideas.
"Tidak Ada Jual Beli Jabatan": Man of Integrity di Tengah Birokrasi Abu-abu Kalimat itu yang paling menggetarkan saat pelantikan pejabat Juli 2025 lalu.
Di hadapan ASN, Sayuti mendeklarasikan perang terhadap praktik kotor. Ia0 juga menyentil Baitul Mal agar menata ulang hak amil secara bersih.
Kita tahu, "mahar jabatan" adalah penyakit kronis birokrasi di banyak daerah. Ia mahal, tidak adil, dan melahirkan pejabat yang sibuk "balik modal".
Langkah Sayuti adalah shock therapy. Secara hukum, ini mengacu pada UU ASN dan asas netralitas. Secara politik, ini berisiko. Karena ia sedang memotong jalur patronase yang selama ini menghidupi mesin politik.
Integritas adalah komoditas paling mahal. Dan Sayuti memilih membayarnya di awal masa jabatan.
Pulang dari Jakarta: Man of Commitment Yang Tak Lupa Jalan Pulang
Sukses di Jakarta sering membuat orang lupa kampung. Tapi tidak dengan Sayuti. Dari memimpin IMPAS hingga Ketua Taman Iskandar Muda, ia konsisten merawat ureueng Aceh di perantauan.
Pada 17 Februari 2025 ia dilantik. Ia bisa saja menikmati nyaman sebagai advokat top. Tapi ia memilih pulang. Bukan untuk dilayani, tapi untuk menghibahkan diri sebagai pelayan.
Ini adalah wujud nyata falsafah Aceh: peuët that ngon rakyét Pemimpin adalah khadam rakyat. Komitmen seperti ini yang dibutuhkan Aceh agar tidak terus kehilangan putra terbaiknya ke Jakarta.
Sidak dan Merit System: Man of Action yang Membongkar Status Quo, Pidato tanpa aksi adalah halusinasi, Sayuti membuktikan nya saat sidak 30% ASN mangkir, ia tidak menutupi nya, ia menjadikan data untuk Reformasi.
Ia mendobrak tradisi "siapa kenal siapa" dan menggantinya dengan sistem merit dan rekrutmen terbuka. "Siapa pun ASN yang punya kemampuan dan kreativitas, silakan melamar," tantangnya.
Ini adalah langkah revolusioner. Mengubah birokrasi dari budaya feodal ke budaya profesional. Tentu ini akan menimbulkan gejolak. Tapi tanpa langkah berani, birokrasi tidak akan pernah berubah.
Catatan Kritis: Agar 4 Pilar Tidak Mati di Tengah Jalan Sebagai pengamat, saya melihat 3 tantangan besar ke depan.
Pertama, institusionalisasi, 4 pilar ini jangan hanya jadi gaya pribadi. Harus diturunkan menjadi Peraturan Wali Kota dan Qanun. Agar ketika ganti pemimpin, semangatnya tetap hidup.
Kedua, transparansi.Sistem merit bagus, tapi harus diawasi. Libatkan DPRK, kampus, dan masyarakat sipil agar tidak berubah jadi "meritokrasi titipan".
Ketiga, keseimbangan, Integritas dan efisiensi birokrasi harus dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi. Rakyat butuh bukti: birokrasi bersih = jalan mulus, lapangan kerja, dan UMKM naik kelas.
Penutup: Patriotisme Zaman Now
Dr. Sayuti Abubakar sedang mendefinisikan ulang patriotisme. Di era modern, patriot bukan lagi yang mengangkat senjata. Tapi yang berani menegakkan meritokrasi, menolak suap, merawat sejarah, dan bekerja nyata untuk rakyat.
Perjalanan dari Gampong Linggong ke kursi Wali Kota adalah epos harapan. Ia membuktikan satu hal: birokrasi bisa bersih, sejarah bisa jadi modal pembangunan, dan putra daerah bisa pulang untuk mengabdi.
Untuk warga Lhokseumawe, ini adalah momentum. Mari kawal, kritik, dan dukung. Karena sejarah memang sedang berpihak pada kita. (Redaksi)

